Terminal Teluk Lamong Mengusung Konsep Eco Green Port

Konsep Eco Green Port – Terminal Teluk Lamong yang akan mulai dioperasikan awal Mei 2014 mendatang membutuhkan energi yang cukup besar. Pada beberapa pelabuhan dan terminal sebelumnya bertumpu pada solar sebagai bahan bakar diesel, Terminal Teluk Lamong akan mengawali beralih menggunakan energi Listrik. Bahkan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, sebagai pengelola terminal tersebut, terus melakukan kajian untuk membangun pembangkit sendiri dengan menggunakan bahan bakar gas. Terminal Teluk Lamong, tidak hanya sekedar sebagai sarana untuk perluasan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang sudah overload namun sebagai sarana pendukung dalam proses revitalisasi Pelabuhan Tanjung Perak secara menyeluruh agar kinerjanya meningkat dan kapasitasnya juga bertambah.

Selama ini, energi didominasi solar untuk menggerakkan roda-roda pelabuhan, selanjutnya akan di tinggalkan. Mengapa? Selain perusahaan berkomitmen ke arah go green, sudah barang tentu efisiensi yang tepat guna menjadi landasan kebijakan. Apalagi, harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami kenaikan, sehingga penggunaan energi ramah dan murah dipastikan menjadi tujuannya. BBM naik kita kan harus berfikir lebih efisien. Apalagi kita sudah berkomitmen ke arah go green.

Karena itu, kami akan meninggalkan penggunaan solar yang berpolusi itu ke listrik PLN,” kata Husein Latief, Direktur Komersial & Pengembangan Usaha, Pelindo III (Persero). Untuk itu, perusahaan ini sudah menandatangani kontrak dengan PLN yang dikenal dengan kontrak listrik tanpa mati. Pihak PLN sudah memberikan jaminan tidak akan ada pengurangan suplai maupun pemadaman, sehingga roda-roda di pelabuhan terus berjalan tanpa ada gangguan listrik mati. Ini penting, karena ketersediaan listrik terus menerus membantu kelancaran kegiatan di pelabuhan. Kalau sesekali mati kan kegiatan di pelabuhan menjadi terganggu, kata Husein.

Pelindo III menggaet PLN mengembangkan konsep Eco Green Port guna mengurangi polusi di kawasan pelabuhan sekaligus mewujudkan sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain di Tanah Air. Dengan demikian, Pelindo III sebagai perusahaan pengelola 42 pelabuhan di tujuh provinsi akan mengurangi penggunaan mesin diesel di pelabuhan yang mengakibatkan asap hitam mengepul. Selanjutnya, bila penggunaan listrik, udara di pelabuhan lebih bersih dan bebas polusi udara, katanya.

Kebutuhan listrik di Pelabuhan Tanjung Perak mencapai 14 Mega Watt (MW ). Besaran tersebut digunakan untuk perkantoran, penerangan jalan, penerangan lapangan penumpukan, industri, dan kebutuhan lainnya. Sementara kebutuhan di di Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) kebutuhan daya listriknya juga cukup tinggi mencapai 4 MW. Bahkan, mereka berencana menambah daya sebesar 10 MW untuk memasok daya 11 `Container Crane/CC` sedangkan selama ini kebutuhan listriknya dipenuhi dari genset. Lalu bagaimana kebutuhan listrik di Terminal Teluk Lamong? Tentang ini, Husein mengatakan, pada tahap awal pengoperasian dibutuhkan listrik sekitar 16 MW. Pada tahap kedua, yakni pada 2016 dibutuhkan 30 MW dan selanjutnya pada 2018-2020 dibutuhkan 100 MW. Energi listrik sebesar 16 MW akan terbagi dalam dua jalur dengan sistem otomatis. Pembagian dua jalur ini untuk mengantisipasi bila satu jalur tidak optimal.

Menentukan pilihan menggunakan listrik PLN memang dengan perencanaan matang, tidak gegabah. Keadaan ini disadari oleh Pelindo III. Digunakannya energi listrik PLN di Teluk Lamong itu pada tahap awal 16 MW itu, katanya, kebutuhan operasionalnya yang paling pokok adalah untuk pengoperasian sejumlah STS (Ship to Shore) Crane dan ASC (Automated Stacking Crane). Terminal Teluk Lamong juga menjadi terminal kedua di dunia yang menggunakan Automated Stacking Crane setelah APM Terminals Tangier, Maroko. Indonesia melalui Pelindo III akan menjadi negara keempat di dunia yang menggunakan alat ini, sekaligus menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Automated Stacking Crane adalah sebuah alat yang memungkinkan untuk dikendalikan dari jarak jauh. Pengoperasiannya dilakukan dari dalam sebuah ruang kendali yang terpisah jauh dari alat tersebut. Selama ini operator alat berat selalu berada di dalam alat berat yang dikendalikannya.

Nantinya operator ASC tidak harus berada di dalam alat itu, nanti mereka akan berada di sebuah ruangan (control room) dengan layar monitor, tuas pengendali dan lain sebagainya, karena itu perempuan pun dengan mudah bisa menjadi operator alat ini. Husein menjelaskan, peralatan yang akan digunakan di Terminal Teluk Lamong merupakan peralatan yang ramah lingkungan. Peralatan akan dioperasikan dengan tenaga listrik sehingga akan mengurangi emisi gas buang atau polusi udara.

Dia menambahkan penggunaan listrik ini untuk mendukung program eco green port atau pelabuhan ramah lingkungan yang digagas sejak 2012. Setidaknya ada tiga peralatan bongkar muat yang diharapkan bisa menekan buangan emisi. STS dan ASC sepenuhnya menggunakan listrik, yang menjadikan Terminal Teluk Lamong sebagai terminal pertama di Asia Tengara yang menggunakan listrik. Sebelumnya kami (pelabuhan Tanjung Perak) selalu menggunakan solar untuk pengoperasian RTG (Rubber Tyrd Gentry) dan CC (Container Crane). Dua alat ini telah kita ganti dengan STS dan ASC, katanya.

Sementara Automatic Terminal Trailer (ATT) masih menggunakan solar. Tetapi ATT ini jauh lebih efisien dibanding operasonal truck pemindah container dari kapal menuju lapangan penumpukan. Mesin ATT secara otomatis mati dalam beberapa menit ketika tidak digunakan. Artinya pembuangan emisi melalui bahan bakar bisa ditekan. Selain itu, roda yang dimiliki ATT jauh sedikit dibanding truck container. Hal ini berfungsi menghindari limbah karet ban akibat aus. Pelindo III menyiapkan anggaran senilai 162.579.599 dollar AS atau setara dengan Rp1,5 Triliun untuk pemenuhan alat angkat dan angkut serta sistem operasi di Terminal Teluk Lamong.

Dana tersebut diperuntukkan untuk pengadaan 10 unit Ship to Shore (STS) Crane, 20 unit Automated Stacking Crane (ASC), 5 unit Straddle Carrier (SC), 50 unit Combined Terminal Tractor (CTT), dan pengadaan Terminal Operating System (TOS). Selain menggunakan listrik sebagai salah satu sumber energi operasional, Teluk Lamong juga menggunakan energi matahari, terutama untuk penerangan jalan. Setidaknya ada sejumlah penerangan yang menggunakan genset sebagai penerangan. Dengan adanya diversifikasi energi dari solar ke listrik PLN diperkirakan bisa menekan biaya operasi 30%-50%.

Genset yang digunakan pada terminal Lamong mempunyai kapasitas kurang lebih 100.000 watt dan bahan bakar yang digunakan jenis solar. Mesin tersebut di beli langsung melalui distributor resmi di kota Palembang dengan harga genset 100 kva di Palembang mencapai Rp 155.000.000.

Hanifah Musaroh