Polisi Terus Memburu Jaringan JAD

Polisi Terus Memburu Jaringan JAD – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat, Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto, mengatakan polisi terus melakukan operasi penangkapan terhadap anggota jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) di daerahnya. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemung- kinan adanya serangan kelompok teroris ini saat perhelatan Asian Games 2018. “Kami sudah melakukan penangkapan kuranglebih 37 orang,” ujar Agung selepas memimpin gelar pasukan Operasi Among Raga Lodaya 2018 untuk pengamanan Asian Games 2018 di Lapangan Gasibu, Bandung, kemarin.

Puluhan terduga teroris itu ditangkap di sejumlah tempat di Jawa Barat. Menurut Agung, berdasarkan pantauan kepolisian, ada potensi gerakan anggota sel JAD di Jawa Barat untuk mengganggu acara olahraga tingkat interna sional itu. Salah satu indikasinya, para terduga tersebut terdeteksi melakukan gerakan di daerah yang berdekatan dengan lokasi venue Asian Games di Jawa Barat.

Pada 1 Agustus lalu, Detasemen Khusus Antiteror (Densus 88) Polri menangkap dua terduga teroris di Kompleks Cempaka Arum, Cimencrang, Gedebage, Kota Bandung. Lokasi tempat tinggal terduga tersebut relatif dekat dengan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). “GBLA tempat latihan atlet,” kata Agung. Berdasarkan informasi yang beredar, salah seorang terduga teroris yang ditangkap tersebut adalah murid pemimpin JAD, Aman Abdurrahman.

Namun Agung belum bersedia memberikan kete rangan ihwal informasi tersebut. “Teman-teman Densus lagi pendalaman,” kata dia. Sementara itu, Kepa la Sub-Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Andi Intang Dulung, di kesempatan berbeda mengatakan persebaran informasi radikalisme dan terorisme terus meningkat. Kelompok ini menyasar kalangan muda yang dianggap paling mudah disusupi paham radikal melalui interaksi media sosial. “Kecanduan paham radikalisme itu sama halnya dengan kecanduan sesuatu, seperti narkoba dan rokok. Dalil yang dipahami teroris ini dalil marah, bukan dalil ramah,” ujarnya, Kamis lalu.

Hanifah Musaroh