Menenangkan Pikiran Dipinggiran Kota Bogor

Menenangkan Pikiran Dipinggiran Kota Bogor

Ada dua lokasi yang aku kunjungi, pertama adalah Curug Bidadari dan satunya kawasan Curug Leuwi Hejo. Antara Curug dan Leuwi memang memiliki kesamaan dimana ada unsur sungai yang menjadi bagian darinya, namun sesungguhnya keduanya sangatlah berbeda. Dari katanya saja antara Leuwi dan Curug sudah berbeda makna.

Leuwi dalam Bahasa Sunda berarti lubuk atau cekungan dalam yang ada di sungai, biasanya di bagian lubuk ini airnya cukup tenang. Sementara Curug dalam Bahasa Sunda berarti air terjun yang tentu saja airnya deras. Jadi di Curug Leuwi Hejo kamu akan menemukan air terjun sekaligus cekungan aliran sungai. Agar lebih bisa menikmati pelarian ini, aku sengaja memilih waktu di weekdays dengan pertimbangan tidak akan banyak orang yang datang di kedua lokasi tersebut. Dan karena spot yang akan dikunjungi lumayan banyak terutama di kawasan Curug Leuwi Hejo, jadi liburan kali ini aku spare waktu dua hari agar bisa menjangkau semuanya. Di hari pertama aku berencana ke Curug Bidadari lebih dulu, esoknya baru explore ke kawasan wisata Curug Leuwi Hejo.

Hujan Sempat Menghalangi

Pagi menjelang siang aku berangkat dari Jakarta bersama kawan, cuaca mendung menemani perjalanan menuju Sentul, Bogor. Agak sedikit cemas lantaran selain ada niat menikmati objek wisatanya, aku juga berencana foto-foto di spot menarik yang ada di sana. Jika hujan turun tentu tidak akan maksimal mengabadikan momen di lokasi yang katanya cukup instagramable ini.

Sebelum makan siang aku sudah sampai di hotel yang berada di kawasan Sentul City. Hotelnya dekat dengan pintu tol Sentul Selatan, lokasinya memang strategis karena dekat ke mana-mana. Cukup mudah menemukan tempat makan, supermarket, dan relatif dekat dengan kedua lokasi wisata yang akan aku kunjungi. Dihotel ini jujur saja saya rasanya sangat nyaman sekali, sebab hotel yang saya pilih memiliki fasilitas yang memuaskan serta interior kamar yang tidak membosankan. Terlebih lagi disini ada genset dari toko genset samarinda dengan kualitas mesin yang tidak di ragukan lagi. Setelah check in dan makan siang, aku segera meluncur ke lokasi pertama yaitu Curug Bidadari.

Dari hotel jaraknya sekitar 13 km, menurut GPS butuh waktu 39 menit untuk sampai ke sana. Awal perjalanan cuaca cukup bersahabat, tidak begitu mendung, namun mendekati pertigaan yang akan mengarah ke Gunung Pancar dan Jalan Raya Bojong Koneng lagit berubah menjadi gelap. Tak lama hujan pun turun dengan deras, hal yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga.

Sesampainya di Curug Bidadari hujan masih belum berhenti. Sambil nunggu hujan reda, makan dan minum yang hangat-hangat sepertinya enak juga. Kebetulan di area parkir kendaraan berjejer warung-warung makanan dan minuman yang menjual kopi, mie instan dan lain-lain. Selesai makan, hujan mulai reda, meskipun masih rintikrintik aku memutuskan untuk turun ke area air terjun dan tidak lupa membawa payung, jaga-jaga kalau hujan tiba-tiba deras kembali karena langit masih terlihat mendung.

Mungkin buat sebagian orang, Curug Bidadari sudah tidak asing lagi, tapi bagi aku ini adalah kali pertama mengunjungi tempat wisata ini. Berbeda dengan curug-curug lainnya yang pernah aku kunjungi, Curug Bidadari sudah dikelola dengan serius. Hal itu bisa dilihat dari fasilitas yang disediakan bagi para pengunjung, sudah tertata dengan baik, termasuk wahana permainanannya meskipun masih perlu sentuhan sana sini agar tempat wisata ini lebih menarik lagi. Curug Bidadari ini memang cocok untuk wisata keluarga, aku pun masih bisa menikmatinya, hanya saja di area air terjun tidak tampak natural lagi karena di depannya sudah dibuat kolam besar dari beton untuk berenang yang pada saat itu tidak terisi air.

Tak lama aku berada di Curug Bibidari hanya beberapa kali ambil foto dan selfie lalu kembali ke hotel, lantaran hujan kembali turun dengan derasnya. Alhasil hari pertama liburan aku ini bisa dibilang kurang memuaskan, karena terkendala oleh hujan jadi foto yang aku dapat pun kurang bagus. Untungnya saya masih bisa merasakan segarnya udara khas pegunungan yang tak bisa di dapat di kota-kota besar.

Hanifah Musaroh