Cegah OPT Biar Tak Kecele

Serangan WBC dan penggerek batang masih mendominasi pertanaman padi pada musim hujan. Apa langkah antisipasinya? Menurut Tri Susetyo, Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), pertanaman padi khususnya di Pantai Utara (Pantura) Jawa masih terancam wereng batang cokelat (WBC) dan penggerek batang. Iman Segara, Crop Manager FMC Agricultural Manufacturing membenarkan kondisi ini. Serangan wereng semakin sulit diprediksi dalam 5 tahun terakhir. “Dulu siklusnya bisa ditebak, sekarang siklusnya nggak bisa ditebak,” ungkapnya.

Wereng ini banyak ditemui di Jabar, bagian tengah Provinsi Jateng, Jatim, dan Lampung. Tren wereng cenderung stabil. “Wereng mulai naik di 2016 akhir, tingginya di 2017. Tahun 2018 awal agak aman. Wereng mulai naik lagi untuk daerah pertanaman baru di Subang dan Karawang,” imbuhnya. Kejadian penggerek batang sama dengan tahun lalu tetapi lebih rumit dikendalikan. Penggerek endemis di Subang (Jabar) serta Pemalang, Banyumas, Klaten, dan Sragen (Jateng). Sedangkan blast mulai menghilang.

OPT Padi Rawa Agus Guswara, Kabid Pendayagunaan Hasil Penelitian Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) menjelaskan, organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang banyak ditemui di lahan rawa adalah penggerek batang, WBC, tungro, dan blast. Karena itu di lahan sawah rawa ada lampu perangkap (light trap) pada setiap 50 ha untuk memantau perkembangan OPT. Menurut Dedi Nursyamsi, kondisi rawa yang lembap menyebabkan cepatnya pertumbuhan penyakit.

“Pengendalian OPT harus lebih kencang tapi musuh alaminya banyak, seperti kepayang dan babandotan,” kata Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) itu. Selain itu, serangan hama tikus juga tinggi karena tikus suka bersembunyi di danau. “Sawah kuncinya gunakan terus dan digilir dengan tanaman legume (kacang-kacangan), kedelai. Lahannya jangan bera, nanti jadi sarang tikus, hama penyakit vektor-vektor wereng juga tumbuh pesat di situ,” lanjutnya.

Iman menambahkan, pertumbuhan gulma di lahan rawa juga pesat. “Rawa lebak lebih berat di pengendalian gulma karena sebar benih langsung. Masalah gulma, biayanya tinggi karena setahun sekali tanam. Begitu mau tanam, rumputnya tinggi,” imbuhnya. Gulma lahan rawa misalnya azola (Azolla pinata), kayapu (Pistia stratiotes), anabaena, dan kiambang (Salviana molesta, Salviana natans). Antisipasi OPT Pertama kali yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kehadiran OPT, ungkap Tri, ialah pengamatan sejak dini dari persemaian sampai panen. “Pengamatan itu kuncinya,” tandasnya.

Hanifah Musaroh